Respons Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Padi (Oryza Sativa L) Akibat Pemberian Azolla Microphylla pada Waktu yang Berbeda
DOI:
https://doi.org/10.31004/green.v4i1.132Keywords:
Pertumbuhan, Padi Sawah, Azolla microphyllaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu terbaik pemberian Azolla microphylla terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukawana Kecamatan Serang Provinsi Bante dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorian (RAK) yang diulang sebanyak 3 kali. Faktor yang diteliti meliputi varietas pad (V) yaitu: Inpari Sidenuk (V1), Mira 1 (V2), dan Pandan Putri (V3) dan waktu pemberian Azolla microphylla (A) yaitu: 10 hari setelah tanam (A1), 20 hari setelah tanam (A2), 30 hari setelah tanaman (A3), 40 hari setelah tanam (A4), dan 50 hari setelah tanam (A5). Parameter yang diamati antara lain: tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, bobot gabah sampel, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, bobot 1000 butir, gabah kering panen, dan gabah kering giling. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan beberapa varietas memberikan pengaruh yang nyata, sedangkan waktu pemberian Azolla microphylla tidak memberikan pengaruh yang nyata pada masing-masing varietas.
References
Badan Pusat Statistik. (2025). Luas panen dan produksi padi di Indonesia 2025. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/02/2545/luas-panen-padi-pada-tahun-2025-mencapai-sekitar-11-32-juta-hektare-dengan-produksi-padi-sebanyak-60-21-juta-ton-gabah-kering-giling--gkg-.html
Pane, H. (1993). Pengaruh waktu aplikasi azolla terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah. Jurnal Agronomi Indonesia, 21(2), 45–52.
Pramono, J., Seno, B., & Widarto. (2005). Upaya peningkatan produktivitas padi sawah melalui pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu. Jurnal Agrosains, 7(1), 1–6.
Samaullah, M. Y. (2007). Pengembangan varietas unggul dan komersialisasi benih sumber padi. Dalam Prosiding Apresiasi Hasil Penelitian Padi (hlm. 1–12).
Sutanto, R. (2006). Pertanian organik menuju pertanian alternatif dan berkelanjutan. Kanisius.
Suprihatno, B., & Daradjat, A. A. (2009). Kemajuan dan ketersediaan varietas unggul padi. Jurnal Penelitian Tanaman Pangan, 28(1), 1–12.
Yoshida, S. (1981). Fundamentals of rice crop science. International Rice Research Institute.
Dobermann, A., & Fairhurst, T. (2000). Rice: Nutrient disorders and nutrient management. Potash & Phosphate Institute.
Fageria, N. K. (2007). Yield physiology of rice. Journal of Plant Nutrition, 30(6), 843–879. https://doi.org/10.1080/01904160701312947
Singh, B., & Singh, Y. (2017). Azolla as a biofertilizer in rice production: A review. Agricultural Reviews, 38(2), 83–90.
Lumpkin, T. A., & Plucknett, D. L. (1980). Azolla: Botany, physiology, and use as a green manure. Economic Botany, 34(2), 111–153.
Watanabe, I., & Liu, C. C. (1992). Improving nitrogen fixation in rice fields with Azolla. Fertilizer Research, 29(1), 69–75.
De Datta, S. K. (1981). Principles and practices of rice production. John Wiley & Sons.
Peng, S., Cassman, K. G., Virmani, S. S., Sheehy, J., & Khush, G. S. (1999). Yield potential trends of tropical rice since the release of IR8 and the challenge of increasing rice yield potential. Crop Science, 39(6), 1552–1559.
IRRI. (2013). Rice almanac (4th ed.). International Rice Research Institute.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yusi Meilani, Widya Agustina Rusadi, Robby Mubarok, Khoirun Nissa Ruhdiah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








