Pusat Budaya Betawi di Jakarta dengan Pendekatan Arsitektur Modern
DOI:
https://doi.org/10.31004/green.v2i3.445Keywords:
Budaya Betawi, Arsitektur Modern, Suku Betawi, Kelestarian BudayaAbstract
Jakarta merupakan kota istimewa karena tidak hanya mewakili suku Betawi yang merupakan kampung halaman aslinya. Namun, banyak orang dari latar belakang etnis, budaya, dan adat istiadat yang berbeda telah menetap di Jakarta dan terus bertambah di sana. Namun seiring berkembangan waktu pengaruh budaya luar dari tempat lain menyebabkan keberlangsungan budaya Betawi semakin terabaikan. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian budaya Betawi, perlu dilakukan upaya untuk menghidupkannya kembali budaya Betawi di Jakarta. Salah satu konsep perancangan pusat seni budaya Betawi adalah solusi terbaik. Selain menjadi identitas Betawi berbasis kota, perencanaan di Jakarta harus didukung oleh unsur - unsur pembangunan berkelanjutan, khususnya lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi. Ide di balik strategi desain arsitektur modern yang dipilih adalah untuk mengekspresikan seni budaya Betawi didalam bangunan tersebut. Sebagai simbol identitas Betawi di Jakarta dan ruang yang dapat mendukung inisiatif pengembangan budaya yang ambisius, pusat seni dan budaya Betawi mempunyai posisi penting baik di dalam kota maupun di luar Indonesia. Tugas akhir penulis diberi judul “Pusat Kebudayaan Betawi di Jakarta dengan Pendekatan Arsitektur Modern.” Penulis melakukan penelusuran lokasi, pengumpulan data baik langsung maupun tidak langsung, serta melakukan penilaian dan memilih di satu lokasi yaitu di Kemayoran, Jakarta Pusat. Usulan perancangan Pusat Budaya Betawi di Jakarta dengan pendekatan arsitektur modern yang memenuhi permintaan pengguna diperoleh dari pengumpulan data, analisis, dan metode yang digunakan. Aspek perencanaan dan perancangan arsitektur yang telah selesai diperiksa dan dijadikan pedoman dalam proses perancangan selanjutnya.
References
Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. (2017). Provinsi DKI Jakarta dalam angka 2017. Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta.
Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. (2018). Kota Jakarta Pusat dalam angka 2018. Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta.
Carmona, M., Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. (2010). Public places urban spaces: The dimensions of urban design (2nd ed.). Routledge.
Curtis, W. J. R. (1996). Modern architecture since 1900 (3rd ed.). Phaidon Press.
Google. (n.d.). Peta wilayah administratif Provinsi DKI Jakarta. Google Maps.
Helen & Hard Architects. (2020). Flekkefjord cultural center. ArchDaily.
Jakarta Smart City. (2020). Panduan rancang kota kawasan Bandar Kemayoran 2020. Pusat Pengelola Komplek Kemayoran.
Jencks, C. (1985). Modern movements in architecture. Penguin Books.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
Lynch, K. (1960). The image of the city. MIT Press.
Neufert, E. (1996). Data arsitek (Jilid 1). Erlangga.
Rapoport, A. (1969). House form and culture. Prentice-Hall.
Shahab, Y. Z. (2001). Identitas dan otoritas: Rekonstruksi tradisi Betawi. Laboratorium Antropologi FISIP Universitas Indonesia.
Tjandrasasmita, U. (1977). Jakarta Raya dan sekitarnya dari zaman prasejarah hingga kerajaan Pajajaran. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
UNESCO. (2023). Culture and heritage for sustainable development. UNESCO Publishing.
Universitas Islam Indonesia. (2020). Pusat kebudayaan Betawi sebagai ruang pelestarian budaya lokal. http://digilib.isi.ac.id/6103/6/JURNAL%20Akhwatul%20Ghaisani%20Y..pdf
Wawancara dengan karyawan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. (2023).
Wawancara dengan pendiri Sanggar Betawi Bintang Fadlan. (2023).
Zaha Hadid Architects. (2024). Zhuhai Jinwan Civic Art Center. ArchDaily.
Zahnd, M. (2009). Perancangan kota secara terpadu: Teori perancangan kota dan penerapannya. Kanisius.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Hendiyanto, Firman Ardiansyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








