Model Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan dari Hulu ke Hilir

Menyeimbangkan Kepentingan Ekonomi, Devisa Negara, dan Keberlanjutan Ekosistem serta Pengembangan Indeks Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Berbasis Lanskap di Provinsi Sulawesi Tenggara

Authors

  • Rustam BR Universitas Haluoleo, Indonesia
  • La Rianda Baka Universitas Haluoleo, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/green.v4i4.972

Keywords:

Kelapa Sawit, Tata Kelola, Keberlanjutan, Lanskap, ISPO, Rantai Nilai, Pekebun Rakyat, Indeks Keberlanjutan

Abstract

Perkebunan kelapa sawit merupakan komoditas strategis Indonesia yang memiliki kontribusi penting terhadap produksi pertanian, pendapatan masyarakat, industri hilir, perdagangan internasional, dan ketahanan energi. Namun demikian, pengembangan sawit juga menghadapi tantangan berupa deforestasi, degradasi lahan, perubahan fungsi hidrologis, kehilangan biodiversitas, konflik tenurial, lemahnya traceability, serta kesenjangan kapasitas antara perusahaan perkebunan dan pekebun rakyat. Persoalan tersebut menunjukkan adanya dilema antara kepentingan ekonomi dan devisa negara dengan tuntutan keberlanjutan ekologis dan sosial. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki konteks yang berbeda dibandingkan provinsi sentra sawit utama di Sumatra dan Kalimantan. Oleh karena itu, diperlukan model tata kelola yang mempertimbangkan karakteristik sosial-ekologis dan kelembagaan wilayah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dari hulu ke hilir serta merumuskan Indeks Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Berbasis Lanskap (ITKSB-L) yang dapat digunakan untuk menilai kinerja keberlanjutan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods dengan desain eksploratif-sekuensial yang mengintegrasikan studi literatur, analisis kebijakan, analisis rantai nilai, penilaian pakar, survei pemangku kepentingan, dan analisis spasial. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tata kelola sawit berkelanjutan perlu dibangun melalui lima dimensi utama, yaitu tata kelola ruang dan legalitas, keberlanjutan ekologis, kinerja ekonomi, keberlanjutan sosial, serta tata kelola kelembagaan dan rantai nilai. Kelima dimensi tersebut kemudian dioperasionalkan menjadi ITKSB-L dengan skala 0–100. Model ini menempatkan keberlanjutan bukan sebagai instrumen sertifikasi semata, tetapi sebagai sistem tata kelola lintas aktor dan lintas skala yang menghubungkan kepastian lahan, produktivitas, konservasi, pemberdayaan pekebun, traceability, hilirisasi, dan akses pasar. Kontribusi utama penelitian adalah pengembangan model indeks yang mengintegrasikan pendekatan social-ecological systems, governance, landscape approach, dan global value chain dalam satu kerangka pengukuran yang dapat diterapkan pada konteks Sulawesi Tenggara.

References

Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Tanaman Perkebunan Tahunan Indonesia 2024: Kelapa Sawit, Kopi, Kakao, Karet, Teh, dan Komoditas Perkebunan Unggulan. Badan Pusat Statistik.

Bissonnette, J.-F. (2016). Is oil palm agribusiness a sustainable development option for Indonesia? A review of issues and options. Canadian Journal of Development Studies, 37(4), 446–465.

BPS Provinsi Sulawesi Tenggara. (2025). Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Angka 2025. BPS Provinsi Sulawesi Tenggara.

Chandra, A., Grabs, J., Meemken, E.-M., Hidayat, N. K., Dharmawan, A. H., Mardiyaningsih, D. I., et al. (2026). Limited reach of zero-deforestation commitments to Indonesian oil palm smallholders. Nature Sustainability.

European Parliament and Council of the European Union. (2023). Regulation (EU) 2023/1115 on the making available on the Union market and the export from the Union of certain commodities and products associated with deforestation and forest degradation.

Food and Agriculture Organization. (2024). The State of Food and Agriculture 2024: Value-driven transformation of agrifood systems. FAO.

Li, T. M. (2024). Securing oil palm smallholder livelihoods without more deforestation in Indonesia. Nature Sustainability, 7, 387–393.

Ostrom, E. (2009). A general framework for analyzing sustainability of social-ecological systems. Science, 325(5939), 419–422. https://doi.org/10.1126/science.1172133

Pretty, J. (2008). Agricultural sustainability: Concepts, principles and evidence. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 363(1491), 447–465.

Republik Indonesia. (2025). Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.

Roundtable on Sustainable Palm Oil. (2024). RSPO Principles and Criteria for the Production of Sustainable Palm Oil.

The oil palm governance: Challenges of sustainability policy in Indonesia. (2022). Sustainability, 14(3), 1820

Downloads

Published

2026-10-30

How to Cite

BR, R., & Baka, L. R. (2026). Model Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan dari Hulu ke Hilir: Menyeimbangkan Kepentingan Ekonomi, Devisa Negara, dan Keberlanjutan Ekosistem serta Pengembangan Indeks Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Berbasis Lanskap di Provinsi Sulawesi Tenggara. Indo Green Journal , 4(4), 397 – 405. https://doi.org/10.31004/green.v4i4.972

Issue

Section

Articles

Similar Articles

<< < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.